2 Komentar

Ayah

Di hadapan Penghulu itu, air matanya bercucuran. Suaranya sengau terisak-isak. Begitu berat bagi Pak Mahmud untuk merelakan anak perempuannya menikah dengan Rudi, lelaki pilihan sang anak, Sri. Adegan ijab kabul itu harus diulang berkali-kali, karena setiap Pak Mahmud merapal kalimat suci itu, kata-kata itu selalu tercekat. Ucapannya patah-patah. Dadanya naik-turun. Lanjutan kalimat suci itu tertahan di rongga-rongga dada. Semakin diulang, maka barisan kalimat itu semakin berimpit-impit di dadanya, menambah sesak. Suasana ruangan pelan-pelan semakin sunyi. Lamat-lamat, terdengar suara lirih tangis adik-adik Sri memenuhi seisi ruangan. Ibu Sri apalagi. Melihat suaminya yang mesti berjuang sendirian di hadapan penghulu, dia juga ikut menangis. Air matanya telah meleleh sedari awal. Tidak. Bahkan semenjak subuh tiba. Detik-detik ketika mereka sebagai orang tua, mesti merelakan anak gadisnya diambil lelaki lain.

Ya, lelaki lain. Orang lain yang bukan siapa-siapa di kehidupan Sri sebelumnya. Orang asing yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang utuh tentang siapa Sri itu sebenarnya. Yang tidak pernah tahu hal-hal apa saja yang membuat Sri senang, dan yang membuat Sri sedih. Orang asing ini bahkan tidak tahu, berapa umur adik-adik Sri. Berapa ukuran sepatu Sri. Tidak tahu. Sama sekali tidak tahu.

Namun lucunya, kepada lelaki asing inilah, pada akhirnya, Sri akan melabuhkan diri. Kepada lelaki yang baru dikenalnya sekian bulanan ini. Kepada lelaki yang bahkan Sri sendiripun merasa antara yakin dan tak yakin. Lelaki inilah yang akan mengambil-alih peran yang selama ini dimainkan dengan sangat baik oleh Ayah dan Ibunya.

Ijab kabul itu menjadi momen yang sangat melankolis. Setiap hati seolah turut juga merasakan perasaan yang dirasakan Pak Mahmud dan Ibunya Sri. Atau adik-adiknya Sri. Bagi Pak Mahmud, Sri adalah anak kebanggaan. Wujudnya memang perempuan. Namun, Sri kerap memerankan sosok laki-laki yang selama ini dirindukan oleh ayahnya. Sangat dekat sekali hubungan antara Pak Mahmud dan Sri. Kimia jiwa keduanya telah melebur-genap. Pernah, suatu ketika, Pak Mahmud sakit demam dua minggu berturut-turut karena merindui anak sulungnya itu, yang tengah menempuh pendidikan di ibukota. Sakitnya baru sembuh setelah Sri hadir di hadapan Pak Mahmud.

Kedekatan itulah yang membuat keduanya saling mencintai. Makanya, ijab kabul itu malah seolah-olah seperti mimpi buruk bagi Pak Mahmud. “Bagaimana mungkin dia bisa merelakan anak gadisnya ini diambil lelaki lain?”, ujarnya membathin. Namun, akal pikirnya berkata sebaliknya. Pada akhirnya, dia tidak akan pernah bisa memiliki sendirian jiwa dan raga anak-anaknya. Setiap Ayah, harus berbagi memiliki cinta anak-anak perempuannya. Berbagi cinta. Berbagi sayang. Berbagi rasa. Dan berbagi tempat bercengkrama ria.

Setelah percobaan yang kesekian kalinya, barulah Pak Mahmud mampu dengan lancar, tegas, dan rela, mengucapkan kalimat suci tersebut. Yang kemudian langsung disahut oleh Rudi dengan sekali jawab saja. Tegas. Ringkas.

Ruangan ijab kabul yang semula basah itu, perlahan-lahan menjadi lembab, kemudian mengering. Namun, ruang jiwa Pak Mahmud tidak demikian. Di ruang jiwa yang lelah itu, terhampar gumpalan rasa yang berwarna-warni. Perasaan yang campur aduk. Antara puas dan tak puas. Antara rela dan tak rela.

Sekian jam setelah ijab kabul itu, ia duduk lama termenung di halaman belakang rumah. Sorot matanya kabur, dan sinar matanya redup. Sambil menghisap sebatang rokok, dia melamuni anaknya Sri. Setiap hembusan asap rokok itu, terhembus juga sejuta kenangan tentang anak gadisnya yang cantik jelita. Masa-masa kecil Sri, masa ketika Sri baru belajar bersepeda, kemudian bersekolah, hingga Sri telah menjadi mekar, ranum, dan matang. Sri kebanggaannya kini telah dipinang orang…

Setiap ayah bagi anak perempuannya adalah lentera. Memberikan sinar yang menenangkan tidur malamnya. Namun pada akhirnya malam akan berganti siang. Dan lentera harus dipadamkan.

Setiap Ayah bagi anak perempuannya adalah pahlawan. Yang selalu hadir dengan bahu dan dekapannya, ketika sang anak berhadapan dengan masalah-masalah dunia. Namun pada akhirnya setiap pahlawan akan menemukan fase-fase pasca kepahlawanannya. Fase ketika dia kembali hidup sebagai manusia biasa, dan orang-orang tak memerlukan lagi jasa-jasanya. Sebab setelahnya, orang-orang hanya perlu mengenangnya.

Iklan

2 comments on “Ayah

  1. Tulisan ini… Membuat segenap perasaan kepada ayah menjadi terwakili.
    Keren, kak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: