2 Komentar

Belum Ada Judul III

Harus aku akui, aku memang keterlaluan terhadap Raka. Rasa sayangnya sebenarnya begitu tulus kepadaku. Itu bisa dengan jelas aku rasakan. Tidak perlu bukti apapun. Semuanya begitu jelas. Sejernih bulan purnama. Tapi aku harus memilih, masa depanku sebagai seorang jurnalis sastra, atau hubunganku dengan Raka. Aku memilih keduanya, sebenarnya. Namun, sikap Raka yang terlalu berlebihan dalam mencampuri masa depanku, aku pikir itu yang awalnya membuat aku kehilangan kepercayaanku kepada dia. Kemudian membuatku mencampakkannya.

“aku akan merindukannya” ujarku kepada Aidit. Itu kukatakan ketika aku bertemu Aidit sebelum keberangkatanku. Aku juga menuliskan surat yang kutitipkan kepadanya. Ku katakan kepada Aidit, “berikan surat ini kepada Raka, jika keadaan semakin memburuk. Tetapi, robek surat ini jika Raka mampu hidup tanpa aku”. Ku katakan itu dengan jelas. Meski hatiku berdarah.

Aku menyadari bahwa Raka ada di bandara, ketika aku meninggalkan Jakarta menuju Moskow. Aku melihat dirinya tengah menyembunyikan dirinya dari tatapan mataku di tengah keramaian. Dia bodoh sekali, padahal hari itu adalah hari ujian akhir skripsinya. Tetapi dia malah datang ke sini, dan sama sekali tidak mengucapkan selamat tinggal padaku, apalagi mencoba untuk mencegah kepergianku.

Ketika pesawatku perlahan menapaki tangga langit, aku menangis sejadi-jadinya. Rupanya kali ini aku salah, jika mencoba meyakini kalau aku mampu hidup jauh darinya. Baru sejengkal kami berpisah, hatiku perih. Tak kusangka, ini terlalu berat untuk kutanggung sendirian.

Aku benar-benar telah mencintainya. Tapi aku terlalu egois untuk memperjuangkannya. Atau mungkin terlalu dungu?

Aku tiba di Moskow keesokan harinya. Bersiap hidup tanpa dirinya lagi di dekatku. Tidak ada tanda kabar darinya di ponselku, tidak juga di email ku. Seminggu berikutnya juga begitu. Sama sekali tidak ada kabar darinya. Kecuali sebuah puisi yang dia karang sendiri, dan dia posting di blognya. Puisi yang tertuju padaku. Tapi tidak begitu terang. Namun aku yakin, itu untukku.

Kehidupanku di Moskow secara lahiriah baik. Teman-teman disini sangat pengertian. Aku juga banyak terbantu karena mereka, teman-teman Raka. Raka memang memiliki pergaulan yang luas. Termasuk di Rusia. Dia memiliki banyak teman yang menempuh study sepertiku di sini. Dari cerita teman-teman disini, Raka sudah mengontak mereka dan berpesan untuk menjagaku disini. Aku kembali berhutang kepadanya. Padahal jarak dirinya denganku sekian ribu kilometer. Tetapi, kebaikannya telah melampaui batas-batas territorial kedua Negara ini.

Minggu kedua, aku mengkontak Aidit. Berbasa-basi menanyakan kabarnya, sampai kemudian aku mengumpulkan keberanian untuk menannyakan kabar dirinya.

Dari cerita Aidit, Raka sama sekali tidak menunjukkan gelagat yang mengkhawatirkan. Dia tetap kuliah seperti biasa, berorganisasi seperti biasa, dan menulis seperti biasa. Bahkan dia sama sekali tidak pernah membahas diriku kepada Aidit.

“baiklah, kalau begitu dit. Aku titip Raka ya, dan berjanjilah, jangan pernah bilang kepada Raka kalau aku menanyakan kabarnya padamu.” Ujarku mengakhiri obrolan singkatku kepada Aidit via skype.

Sudah satu bulan aku disini. Aku benar-benar merindukannya. Melalui Aidit, aku terus menanyakan kabarnya. Namun terlalu penakut untuk menyapanya langsung. Aku berpikir bahwa akulah yang memulai untuk mengakhiri hubungan ini, maka, menjadi lebih tidak mungkin jika aku tiba-tiba –setelah menyakiti hatinya- hadir kembali dalam kehidupannya, dan seolah tidak terjadi apa-apa antara kami berdua sebelumnya.

Maka aku lebih memilih menelan bulat-bulat kerinduanku ini. Bertahan. Meskipun begoyang-goyang diterpa angin kerinduan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: