Tinggalkan komentar

Sang Psikolog

lilin3Kucing itu terus saja membulatkan tubuhnya, dan tidur dengan tenang di halaman depan rumah ku. Aku sudah memperhatikannya dari dua jam yang lalu. Selama dua jam belakangan ini, aku juga hanya duduk di teras depan, ditemani secangkir kopi dan biscuit, serta senja mentari yang perlahan-lahan meminta diri untuk kembali ke peraduan.

Selama sebulanan ini, aku kehilangan semangat dalam bekerja. Sebagai seorang psikolog, yang sudah kujalani selama dua puluh tahun, pada akhirnya aku terjebak kejenuhan. Mendengarkan dan menanggapi setiap orang yang konsultasi kepadaku tentang masalah-masalah pribadinya kepadaku, kini terasa tidak lagi menjadi  suatu hal yang aku inginkan. Bahkan, kali ini aku merasakan bahwa aku sudah kehilangan alasan untuk meneruskan profesi ini.

Istrikupun tidak menjadi tempat pelarian yang menyenangkan. Dia selalu seperti itu. selama lima belas tahunan ini, dia selalu menceritakan dunianya, yang menurutku begitu sepele. Dia menghabiskan pendapatan yang aku peroleh dengan rangkaian koleksi tas terkini, sepatu kulit yang mewah, dan pakaian para wanita terhormat. Interaksi intim kami selama ini hanya terjadi di kasur, selebihnya, kami bersikap dingin dan sewajarnya. Tidak ada masalah rumah tangga berarti yang melanda rumah tangga kami. Kami juga memutuskan untuk tidak memiliki anak, yang akan membebani kami pada akhirnya. Rumah tangga bagi kami hanyalah status sosial, tidak lebih. Sepanjang kami berdua bisa terus mencukupi kebutuhan materi kami satu sama lain, termasuk kebutuhan seks, itu sudah cukup. Aku yang lulusan pendidikan Barat, kadung menjadikan pemikiran sekular-materialistik sebagai pandangan hidup. Sementara istriku, anak dari seorang politisi ternama di negeri ini, dari kecil terbiasa hidup mewah, berpendidikan Barat, juga mengamini cara pandang hidupku.

Kami berdua adalah pasangan suami-istri yang tercerabut dari akar sosial penduduk Indonesia. Berpikiran individualistis, mengisolasi diri dengan memilih tinggal disebuah komplek perumahan paling mahal di ibukota, memagari istana dengan pagar yang menjulang tinggi, mempekerjakan asisten rumah tangga agar terhindar dari pekerjaan rutin seorang suami-istri pada umumnya, dan selalu skeptis dengan aneka kegiatan gotong royong yang sering digagas oleh kepala RT komplek.

Agama bagi kami berdua adalah ilusi. Itu tidak benar-benar ada. toh, kami tetap bisa mencapai kesuksesan hari ini karena kerja keras, bukan dengan banyak-banyak berdoa di hadapan Tuhan, dan membuat kami harus ‘menghamba’. Aktifitas keagamaan pun bagi kami sekedar citra sosial. Aku pergi ke masjid di setiap jum’at, dan terus-menerus melancarkan kritik-kritik tajam di dalam hatiku kepada setiap materi khutbah jum’at yang disampaikan khotib. Istriku berkerudung, dan menghadiri buka puasa bersama, jika ada kegiatan yang digagas oleh yayasan miliknya. Selebihnya, kami menyimpan agama di saku dompet kami.

Sebagai seseorang yang tumbuh dewasa dengan alam pikiran Nietszche, Sartre, Freud, atau Marx, aku jelas-jelas berada pada satu garis lurus dengan pandangan-pandangan mereka semua. Namun, tidak akan pernah membahas pandanganku tersebut di hadapan orang lain. Karena bagiku, itu semua percuma. Tidak ada orang yang mampu, atau benar-benar bisa memuaskan hasrat intelektualku yang tinggi tentang relasi agama dan psikologi manusia. Tidak juga istriku yang hanya hafal dua nama nabi; Adam As. dan Muhammad Saw.

Istriku tidak menjadi penawarku. Tidak pernah. Sensitifitasnya pun kurang. Semuanya serba terlambat, sampai kemudian aku secara mengejutkan mengajukan diri berhenti dari pekerjaan sebagai psikolog pada sebuah rumah sakit milik pemerintah dekat rumah, dan menutup klinikku sendiri. Aku merasa seperti lilin yang terus bersinar, menerangi setiap orang, namun perlahan-lahan lenyap. Dilupakan. Tanpa ucapan terima kasih, baik di awal maupun diakhir. Setiap aku memberikan nasihat dan solusi kepada orang lain, setiap itu juga bathinku tergerus. Jiwaku kering kerontang. Nasihat-nasihatku terasa dipenuhi omong kosong. Kebijaksanaanku hanyalah seharga rupiah demi rupiah yang mereka berikan padaku, sebagai ganti karena telah meluangkan waktu untuk mendengarkan setiap curahan hati mereka.

Ketika seharusnya aku menuntun mereka, pasienku, keluar dari ketersesatan bathin, aku justru telah lebih dahulu tersesat dalam kehidupan yang dipenuhi paradoks, yang disebabkan keterbelahan prinsip hidupku selama ini, memandang hidup ini hanya dari satu segi saja; materi.

Aku berada dalam sebuah labirin, yang rasanya tidak mungkin aku keluar darinya. Entah kenapa, dalam perenunganku selama sebulan terakhir ini, aku mulai merindukan cinta pertamaku kembali; seorang gadis desa, lugu dan polos, rambut yang tersengat mentari pantai yang menghadap samudera hindia, dan memiliki kecantikan ala desa; natural. Menurutku, senyumnya lebih baik dari pada aneka make-up  yang coba dibubuhkan oleh istriku sendiri.

Selain itu, aku teringat dengan aktifitas masa kecilku dulu di kampung. Mengajii di surau, menghafal surat-surat pendek, menjadi muadzin setiap subuh dan magrib, dan berlelarian dengan sebaya menuju surau berebut memukul bedug.

Aku juga menginginkan seorang anak kecil di tengah-tengah kami. Yang mampu memecahkan kekakuan hubunganku dengan istriku. Yang mampu memberikan sentuhan emosional dalam kehidupan kami berdua. Yang mampu memunculkan masalah demi masalah rumah tangga, sebagai mana pasangan suami-istri pada umumnya. Aku juga menghendaki sebuah hubungan yang dalam, antara aku dan istriku. Bercerita satu sama lain tentang kesibukan hari ini, tukar menukar pemikiran tentang suatu hal, menghabiskan malam berdansa lagu kesenangan, dan mengakhirinya dengan candle light dinner yang kami masak berdua.

Tapi aku sadar itu tidak mungkin. Istriku akan menertawakan gagasanku ini. Dia akan menyebutku kolot dan konservatif. Aku benci jika dia berkata seperti itu. sekaligus, harga diriku terlampau tinggi untuk larut dalam melankoli seperti ini. Terlalu naïf untuk mengakui bahwa pada akhirnya aku membutuhkan sentuhan emosi dan spiriualitas sekaligus. Kesimpulannya, aku akan meneruskan hidupku seperti ini. Seperti apa adanya. Tidak menghendaki adanya sebuah perubahan yang signifikan, terutama pada skala kepribadian tadi. Tidak.

Kuputuskan, esok hari aku akan kembali ke kantorku, dan meminta maaf atas keputusanku kemarin. Kemudian, sore hari aku akan membuka kembali klinik di rumahku, dan mendengarkan ocehan demi ocehan manusia yang tengah kalah dari kehidupan. Malam harinya, aku akan tidur disamping istriku, dan bangun di awal waktu untuk mengerjakan hobi lamaku; membaca novel roman.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: