Tinggalkan komentar

Sang Sumarnoist

narsisAku dulunya seorang Sumarnois. Mengagumi retorikanya tentang revolusi yang belum selesai. Bersemangat, ketika ia mengobarkan api perlawanan melawan Belanda, ketika kumpeni tersebut datang kembali ke Nusantara dengan agresi militernya yang pertama dan yang kedua. Bahkan, aku memaksa orang tuaku untuk turut pula menghibahkan tanah kami yang sekian hektar, demi agenda revolusi yang belum selesai itu.

Aku diterima kuliah di Universitas Nusantara, jurusan sastra, dengan keyakinan bahwa diriku ini akan bermanfaat untuk agenda revolusinya Bung. Aku bahkan kuliah dengan cara memeras keringat dan air mata orang tuaku di Semarang sana. Aku tidak peduli. “Yang penting adalah”, ujarku kepada kedua orang tuaku, sambil mengulangi kalimat platonik itu, “apa yang kita berikan kepada Negara kita. Bukan apa yang Negara berikan kepada kita!” orang tuaku, yang seorang ningrat kraton, akhirnya kalah berdebat denganku. Merelakan sebidang lagi tanah leluhurnya, untuk biaya kuliahku di ibukota sana.

Ditahun pertama aku kuliah, aku langsung menceburkan diriku dalam dunia pergerakan mahasiswa. Aku tanpa pikir panjang, segera mendaftar menjadi bagian dari organisasi mahasiswa pendukung prinsip-prinsip perjuangan Sumarno. Ditahun kedua, aku pada akhirnya dipilih menjadi Ketua dari gerakan tersebut. Hari-hari kulalui dengan suka-cita. Aku benar-benar menerapkan kesederhanaan a la Sumarno dalam konsep Sumarno-ismenya. Aku bersahabat dengan buruh, petani, pedagang kaki lima, dan semua mahluk Tuhan yang tertindas lainnya.

Dan aku memiliki akses langsung untuk menjalin kontak dengan Bung. Namun yang kudapatkan, justru interaksiku yang begitu intim dengan Bung dan lingkaran dalam kekuasaannya, menjengkelkanku. Garis politiknya bukanlah non blok, seperti yang dikemas oleh media selama ini. Justru semakin hari, yang kurasakan adalah; Bung membawa Indonesia mendekat ke Tiongkok. Kemudian Sovyet. Gerakan non blok, seperti yang diduga oleh sejumlah pengamat, tidaklah memiliki pijakan yang relevan. Pada akhirnya, setiap Negara yang merdeka pasca perang dunia kesatu dan kedua, bukanlah Negara yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai tawar di hadapan hegemoni blok komunis dan blok kapitalis. Faktanya, pemimpin dari masing-masing Negara yang tergabung dalam gerakan non blok, menjadikan gerakan tersebut sebagai kampanye politik nasional untuk meningkatkan nilai popularitas mereka di mata rakyat. rakyat ketika tentu lebih menyukai cerita-cerita ketika seorang anak muda, yang minim pengalaman, mampu menaklukkan raksasa tiran, dengan sekali pukulan sakti. Dan sekiranya, seperti itulah yang aku pikirkan tentang semua ini.

Gaya hidup borjuis Sumarno benar-benar mengejutkan diriku. Istri yang banyak, lencana-lencana yang memadati kostum kebesarannya, tongkat komandonya, TAP MPR yang menjadikannya presiden seumur hidup, adalah rentetan yang membuat aku muak.

Keputusan ekstrem Bung ketika membubarkan parlemen, termasuk majelis konstituante, disusul membubarkan Partai Musyawarah Islam (PMI) dan Partai Sosial Indonesia (PSI), benar-benar tindakan yang ekstra-konstitusional. Bagaimana mungkin, seorang konseptor dasar negara, melakukan tindakan gila seperti itu?

Aku tekun membaca tulisan Bung Husain (Wakil Bung Sumarno) yang dimuat dalam majalah Pandjimas, surat kabar milik Buya Hasyim. Sebuah tulisan yang tulus dan jernih. Bung Husain memberi tulisan itu judul yang elok, “Demokrasi Kita”. Sebuah kritik konstruktif kepada sahabat seperjuangan yang semakin hari, semakin dilanda sindrom megalomania. Aku memang jelas bukan simpatisan PMI, apalagi PSI. namun, aku bersimpati kepada mereka. Keduanya adalah pendekar demokrasi negeri ini. Keduanya memiliki kontribusi yang besar bagi tumbuh-kembangnya budaya berdemokrasi melalui parlemen bagi rakyat Indonesia. Bahkan para petingginya, dikenal bersih selama menjabat.

Akhirnya aku mengambil sikap. Aku melakukan rapat internal organisasi, yang dihadiri oleh semua unsur pimpinan organisasi. Aku mengemukakan kegelisahanku selama ini. Namun rupanya, organisasiku ini, adalah organisasi yang dipenuhi oleh para Sumarnois edan. Saking edannya, mereka menerjemahkan keloyalitasan mereka terhadap Sumarno tanpa kata “tapi”. Dalam rapat itu, aku dikeroyok. Kegelisahanku tidak mendapatkan tempat. Bahkan wakilku, mengancam akan menyelenggarakan Musyawarah Luar Biasa. Sebab, organisasi tidak mungkin dipimpin oleh seseorang yang tidak Sumarnois. Benar-benar gila.

Diremehkannya segala pengorbananku selama ini terhadap organisasi. Dilupakannya segala jerih-payahku selama ini kepada tumpah darah organisasi. Lupa pula ia menghitung, berapa ribu rupiahkah, uang kiriman orang tuaku di Semarang, dipakai untuk keberlangsungan roda organisasi.

Justru inisiatifku itu membuat sejumlah petinggi organisasi mulai mencurigaiku sebagai bagian dari komplotan anti-revolusi. Lebih kejam, esoknya aku membaca namaku disebut media pro pemerintah sebagai bagian dari komplotan pemberontakan PRRI/Permesta! Anak jalang!

Selang seminggu, aku mendapatkan diriku tengah berdiri pada podium, membacakan pembelaanku terkait statementku pada rapat organisasi yang lalu –ketika aku mulai meragukan ke-Sumarnoisme-an Bung. Aku disidang. Dan keputusan akhir dari muslub, aku diberhentikan secara tidak hormat dari organisasi. Keanggotaanku juga dicabut. Wakilku, yang selama ini mengincar posisiku, menggantikanku. Sepertinya, dia akan menggunakan posisiku itu untuk menjilat sebaik mungkin Bung. Hal yang tidak pernah terpikir olehku selama aku menjadi Ketua organisasi.

Agar keputusan sidang lebih legitimate, dibacakanlah nama-nama kader yang menandatangani persetujuan agar aku di impeach, salah satunya aku mendengar nama yang kukenal; Sumarno. Ya. Bung yang kukagumi dulunya. Ia memang kader organisasi. Kader kehormatan. Aku baru tahu, jika kader kehormatan juga memiliki suara untuk menyatakan keberatan terhadap struktur inti organisasi. Dalam sidang itu, aku benar-benar seperti Hitler yang digelanggang ke Mahkamah Internasional karena segala macam kegiatan ahumanisku sewaktu menjadi pemimpin NAZI.

Keputusan musyawarah itu begitu mengguncangku. Aku mengurung diriku seharian di kamar. Terkenang wajah ibu dan bapak di Semarang. Sekian hektar tanah leluhur yang terjual untuk membiayai revolusi. Sekian hektar lagi untuk membiayai kuliahku. Terkenang airmata ibuku yang berderai, ketika aku pergi ke ibukota, tapi aku tak perduli. Semuanya terkenang.

Kenangan-kenangan itu, adalah kenangan seseorang yang kalah. Seseorang yang terlampau prematur mengidolakan Sumarno, dan pada akhirnya menjadi orang yang paling kecewa berat setelah melihat dengan mata-kepala sendiri seperti apa politik Sumarno itu sejatinya.

Air mata mengalir deras. Air mata yang dulunya, mengalir karena kekaguman yang dahsyat terhadap Sang Bung. Air mata yang dulunya memaksa orang tuanya membuatkan stelan jas mirip Bung, dan setelah jadi, dia berteriak-teriak, bak tengah berpidato di hadapan ribuan pasang mata. Air mata yang dulunya penuh kerinduan untuk menengok bagaimanakah ujung dari revolusi ini. Air mata ini adalah air mata yang sama ketika semua peristiwa yang barusan terkenang itu, muncul bergantian di kepalaku. Air mata kekalahan. Air mata ketidak berdayaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: