Tinggalkan komentar

Hiroshima

DSC_0723Semula aku sangka itu adalah burung agung yang ada di dalam legenda. Rupanya bukan. Itu adalah pesawat tempur, berbendera milik Negara super power yang terletak di Amerika Utara. Sekian menit berselang, burung-burung baja itu melemparkan berton-ton atom dari langit. Dampaknya sungguh luar biasa; Menggoyangkan semesta pasifik, melahap habis Hiroshima tanpa sisa, menelan tanpa ampun Nagasaki, dan membuat Perdana Menteri Militer Jepang, Hideki Tojo terperangah setengah tak berdaya; hilang sepenggal wilayah Jepang. Seperti terkena stroke, yang mematikan fungsi tubuh sebelah kanan. Tojo tidak mengira jika bom atom itu benar-benar ada. rupanya, ilmuwan gila yang disanjung setinggi langit karena kejeniusannya, dan gambarnya yang suka menjulurkan lidah, berhasil menjadikan senjata pemusna massal itu menjadi nyata. Serangan telak ini mengacaukan semua scenario penaklukkan Jepang.

Kaisar Hirohito gagal menelan air ludah. Tenggorokannya kering. Ambiguitas dirinya dalam menyikapi egoisme Militer yang kukuh dengan obsesinya untuk memeluk Asia dalam dekapan Jepang; sebagai pemimpin, saudara, dan cahaya Asia, justru membuat negerinya terancam bubar. Seketika, Sang Kaisar mengumumkan negaranya menyerah tanpa syarat terhadap pasukan sekutu. Presiden Negara Adikuasa, Truman, merespon itu dengan positif. Dia berjanji singgasana Kekaisaran Jepang tidak akan digoyah, asal Jepang tulus menyerah kalah.

Koalisi tukang jagal Fasis, antara Jerman, Italia, dan Jepang, yang semula dikira gagah, rupanya rapuh di dalam. Hitler justru diam-diam menggenggam jemari, berdoa agar Jepang tidak menunda ekspansinya ke Manchurian, dan terus menohok teritori Joseph Stalin di jantung Moskva. Dengan begitu, Hitler bisa melebarkan sayap hingga ke timur Eropa. Mengembalikan keunggulan Ras Aria. Begitu juga Musolini. Sebenarnya tidak pernah perduli dengan agenda Jepang dan jerman. Yang ia pedulikan, adalah mewujudkan kembali hegemoni kekaisaran Roma seperti dulu kala. Jadi, masing-masing isi kepala ketiga orang ini; Hideki Tojo, Adolf Hitler, dan Benito Mussolini, tidaklah sama. Masing-masing memikirkan, dan mendahulukan agendanya sendiri atas kawan koalisinya.

Sebelum pesawat yang kusangka burung legenda itu memuntahkan atom tepat di atas kepala kami, aku tengah asyik bermain layangan. Langit cerah. Ketebalan cahaya mentari sempurna. Angin pun mendukungku untuk mengangkasakan layanganku. Jemariku cekatan mengemudikan layangan. Meliuk-liuk di atas langit, bak parade Angkatan Udara dalam mendemonstrasikan keberhasilannya menjinakkan burung besi raksasa itu di atas langit kami dua bulan yang lalu. Mereka beregu. Berguling-gulung di atas awan, sesekali menyemprotkan asap berwarna-warni. Kemudian ratusan pasang mata berkejap-kejap. Kagum. Di akhir pertunjukkan dirgantara itu, tiba-tiba salah satu pesawat yang berukuran sedikit kecil, membentangkan spanduk panjang bertuliskan kalimat propaganda khas Militer; Jepang Pemimpin Asia.

Pelan-pelan, angin menderu kencang. Membuat kemudiku atas layanganku sedikit terguncang. Aku kehilangan kendali. Lantas layanganku ke kanan dan ke kiri. Tak keruan arah. Tiba-tiba, “tuss!” layanganku putus. Langit menghitam. Mentari dicuri sebentar oleh dewa-dewa. Kulitku merasakan hawa panas tak tertanggungkan. Sekejap, kilatan cahaya memblitz mata kami bak kamera raksasa. Bau bahan-bahan kimia meruyak masuk ke dalam saluran pernafasan kami. Tubuhku tiba-tiba terpental begitu jauh. Sepertinya, atom itu, atau bom atom itu, telah dilontarkan tepat di atas kepala kami. Aku yang berusia 11 tahun, langsung membayangkan inikah peperangan alam kayangan? Menyilaukan mata, memekikkan telinga, dan membuat nafas tercekat? Dari tanah lapang tempat aku bermain layangan, aku terpelanting  200 Meter masuk ke sungai deras yang ada disebelahnya. Kepalaku terantuk batu yang begitu kokoh. Kulihat sekejap, sebelum kesadaranku hilang, warna air memerah saga. Air sungai yang kutahu rasanya begitu dingin dan segar, seketika mendidih. Aku seperti telur rebus. Hanya terbujur kaku, pasrah, dengan wadah tali senar layangan masih kugenggam erat-erat. Inilah harta terakhirku. Harta karunku.

Semua kegaduhan itu, membuatku sulit sekali membukakan mata. Rasanya tubuhku pun sulit untuk digerakkan. Aku kehilangan kemudiku atas kedua kakiku. Kedua tanganku sepertinya kehilangan rasa. Badanku nyeri sejadi-jadinya. Kepalaku pusing sekali.

Ketika aku sadar, aku kaget luar biasa. Rupanya aku berada dalam sebuah ruangan yang begitu rapi dan bersih. Bukan terbaring di hutan raya, seperti bayangan terakhirku ketika hanyut di sungai. Aku juga mengenakan pakaian khas orang sakit. Nampaknya aku di rumah sakit. Aku memicingkan mata. Melihat tanggalan yang tertempel di dinding, seberang kasur pembaringanku. 18 Oktober 1980. Aku mengingat-ingat, rasanya, ketika aku terpelanting masuk sungai, terhempas dan jatuh dari jurang curam, aku berusia 11 tahun. Penanggalannya juga 5 agustus 1945. Tapi, ini 1980? Bukankah itu artinya sudah 35 tahun berlalu? Aku melihat sekujur tubuhku; benar saja, tubuhku sendiri membesar. Lebih tepatnya bertumbuh. Kesadaranku yang spontan, ternyata disadari oleh salah seorang perawat yang kebetulan lewat di kamarku. Dia sepertinya lebih kaget dari pada aku. Melompat histeris. Memekik sekaligus menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Berlari ke arah sebaliknya. Bertubrukan dengan dokter, setelahnya aku tidak tahu lagi apa. Dia menghilang dari pandanganku.

Setelah histerisnya perawat tadi, rupanya semua dokter, berkumpul mengelilingiku. Salah satu dari mereka memeriksa alat-alat canggih di sebelah kiriku. Satunya lagi melihatku dengan lembut. Seorang dokter tampan, berkacamata, dan memiliki uban yang berwibawa. Dia menerangkan dengan jelas, bahwa sekarang ini benar-benar tahun 1980. Artinya, aku sendiri sudah berusia 40 tahunan lebih. Dari 80.000 korban jiwa dalam ledakan bom atom, aku adalah salah satu yang selamat. Namun, ketika ditemukan, tubuhku sudah dalam kondisi darurat. Setengah mati-setengah hidup. Mati, karena aku sama sekali tidak beraktifitas layaknya orang-orang yang sehat, hidup karena jantungku masih tetap berdetak. Dan itu berlangsung selama 35 tahun ini.

Pemerintah sebenarnya berinisiatif untuk melakukan mekanisme euthanasia kepada diriku. Namun tidak jadi, karena ada intervensi langsung dari Kaisar. Pada akhirnya, aku dibiarkan hidup, dan semua biaya perobatanku, ditanggung Kekaisaran. Kaisar mengatakan, bahwa aku, ujar dokter tadi, adalah simbol keteguhan kota Hiroshima. Lambang kebulatan tekad.

Setengah jam lebih, aku mendengarkan, dan menyimak cerita sang dokter. Aku benar-benar tidak bisa mencerna separuhnya dari apa yang ia ceritakan. Tapi yang aku tahu, aku hidup. Aku mampu bertahan dan lolos dari kematian. Dan itu fakta.

Pelan-pelan kamarku disesaki oleh orang-orang. Dari tatapan matanya, mereka semua membawa perasaan tertarik kepada diriku (atau kepada kondisiku?). Keramaian, justru adalah kondisi yang sudah lama tidak kurasakan. Waktu aku masih berusia 11 tahun lalu, aku adalah penyuka keramaian. Aku selalu berlarian paling kencang ke luar kelas jika lonceng istirahat berdenting. Aku akan ikut dalam hamburan kawan-kawanku. Menjadi yang paling keras tertawanya. Dan yang paling dahulu mencapai papan luncur.

Ingatanku yang sekejap tentang masa sekolahku kemarin (atau 35 tahun yang lalu?) membuatku lapar. Aku ingin sekali membeli jajanan di kantin sekolahku. Kemudian, aku spontan berkata kepada dokter yang dari tadi menemaniku, “tuan, bisakah kau membelikanku jajanan di kantin sekolahanku, tuan?” dokter itu kemudian mengubah sikap ramahnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Dia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti, namun sejatinya, di dalam kandungan kalimatnya, aku yakin, itu bukanlah sesuatu yang baik. “kau itu sekarang hanyalah ruh gentayangan. Hanya aku yang bisa melihatmu. Dan mendengarkanmu. Kematianmu barusan, justru adalah awal mula kehidupanmu yang lain, kawan.” Ujarnya dingin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: