2 Komentar

Ayah

Di hadapan Penghulu itu, air matanya bercucuran. Suaranya sengau terisak-isak. Begitu berat bagi Pak Mahmud untuk merelakan anak perempuannya menikah dengan Rudi, lelaki pilihan sang anak, Sri. Adegan ijab kabul itu harus diulang berkali-kali, karena setiap Pak Mahmud merapal kalimat suci itu, kata-kata itu selalu tercekat. Ucapannya patah-patah. Dadanya naik-turun. Lanjutan kalimat suci itu tertahan di rongga-rongga dada. Semakin diulang, maka barisan kalimat itu semakin berimpit-impit di dadanya, menambah sesak. Suasana ruangan pelan-pelan semakin sunyi. Lamat-lamat, terdengar suara lirih tangis adik-adik Sri memenuhi seisi ruangan. Ibu Sri apalagi. Melihat suaminya yang mesti berjuang sendirian di hadapan penghulu, dia juga ikut menangis. Air matanya telah meleleh sedari awal. Tidak. Bahkan semenjak subuh tiba. Detik-detik ketika mereka sebagai orang tua, mesti merelakan anak gadisnya diambil lelaki lain.

Ya, lelaki lain. Orang lain yang bukan siapa-siapa di kehidupan Sri sebelumnya. Orang asing yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang utuh tentang siapa Sri itu sebenarnya. Yang tidak pernah tahu hal-hal apa saja yang membuat Sri senang, dan yang membuat Sri sedih. Orang asing ini bahkan tidak tahu, berapa umur adik-adik Sri. Berapa ukuran sepatu Sri. Tidak tahu. Sama sekali tidak tahu.

Namun lucunya, kepada lelaki asing inilah, pada akhirnya, Sri akan melabuhkan diri. Kepada lelaki yang baru dikenalnya sekian bulanan ini. Kepada lelaki yang bahkan Sri sendiripun merasa antara yakin dan tak yakin. Lelaki inilah yang akan mengambil-alih peran yang selama ini dimainkan dengan sangat baik oleh Ayah dan Ibunya.

Ijab kabul itu menjadi momen yang sangat melankolis. Setiap hati seolah turut juga merasakan perasaan yang dirasakan Pak Mahmud dan Ibunya Sri. Atau adik-adiknya Sri. Bagi Pak Mahmud, Sri adalah anak kebanggaan. Wujudnya memang perempuan. Namun, Sri kerap memerankan sosok laki-laki yang selama ini dirindukan oleh ayahnya. Sangat dekat sekali hubungan antara Pak Mahmud dan Sri. Kimia jiwa keduanya telah melebur-genap. Pernah, suatu ketika, Pak Mahmud sakit demam dua minggu berturut-turut karena merindui anak sulungnya itu, yang tengah menempuh pendidikan di ibukota. Sakitnya baru sembuh setelah Sri hadir di hadapan Pak Mahmud.

Kedekatan itulah yang membuat keduanya saling mencintai. Makanya, ijab kabul itu malah seolah-olah seperti mimpi buruk bagi Pak Mahmud. “Bagaimana mungkin dia bisa merelakan anak gadisnya ini diambil lelaki lain?”, ujarnya membathin. Namun, akal pikirnya berkata sebaliknya. Pada akhirnya, dia tidak akan pernah bisa memiliki sendirian jiwa dan raga anak-anaknya. Setiap Ayah, harus berbagi memiliki cinta anak-anak perempuannya. Berbagi cinta. Berbagi sayang. Berbagi rasa. Dan berbagi tempat bercengkrama ria.

Setelah percobaan yang kesekian kalinya, barulah Pak Mahmud mampu dengan lancar, tegas, dan rela, mengucapkan kalimat suci tersebut. Yang kemudian langsung disahut oleh Rudi dengan sekali jawab saja. Tegas. Ringkas.

Ruangan ijab kabul yang semula basah itu, perlahan-lahan menjadi lembab, kemudian mengering. Namun, ruang jiwa Pak Mahmud tidak demikian. Di ruang jiwa yang lelah itu, terhampar gumpalan rasa yang berwarna-warni. Perasaan yang campur aduk. Antara puas dan tak puas. Antara rela dan tak rela.

Sekian jam setelah ijab kabul itu, ia duduk lama termenung di halaman belakang rumah. Sorot matanya kabur, dan sinar matanya redup. Sambil menghisap sebatang rokok, dia melamuni anaknya Sri. Setiap hembusan asap rokok itu, terhembus juga sejuta kenangan tentang anak gadisnya yang cantik jelita. Masa-masa kecil Sri, masa ketika Sri baru belajar bersepeda, kemudian bersekolah, hingga Sri telah menjadi mekar, ranum, dan matang. Sri kebanggaannya kini telah dipinang orang…

Setiap ayah bagi anak perempuannya adalah lentera. Memberikan sinar yang menenangkan tidur malamnya. Namun pada akhirnya malam akan berganti siang. Dan lentera harus dipadamkan.

Setiap Ayah bagi anak perempuannya adalah pahlawan. Yang selalu hadir dengan bahu dan dekapannya, ketika sang anak berhadapan dengan masalah-masalah dunia. Namun pada akhirnya setiap pahlawan akan menemukan fase-fase pasca kepahlawanannya. Fase ketika dia kembali hidup sebagai manusia biasa, dan orang-orang tak memerlukan lagi jasa-jasanya. Sebab setelahnya, orang-orang hanya perlu mengenangnya.

Iklan
2 Komentar

Belum Ada Judul III

Harus aku akui, aku memang keterlaluan terhadap Raka. Rasa sayangnya sebenarnya begitu tulus kepadaku. Itu bisa dengan jelas aku rasakan. Tidak perlu bukti apapun. Semuanya begitu jelas. Sejernih bulan purnama. Tapi aku harus memilih, masa depanku sebagai seorang jurnalis sastra, atau hubunganku dengan Raka. Aku memilih keduanya, sebenarnya. Namun, sikap Raka yang terlalu berlebihan dalam mencampuri masa depanku, aku pikir itu yang awalnya membuat aku kehilangan kepercayaanku kepada dia. Kemudian membuatku mencampakkannya.

“aku akan merindukannya” ujarku kepada Aidit. Itu kukatakan ketika aku bertemu Aidit sebelum keberangkatanku. Aku juga menuliskan surat yang kutitipkan kepadanya. Ku katakan kepada Aidit, “berikan surat ini kepada Raka, jika keadaan semakin memburuk. Tetapi, robek surat ini jika Raka mampu hidup tanpa aku”. Ku katakan itu dengan jelas. Meski hatiku berdarah.

Aku menyadari bahwa Raka ada di bandara, ketika aku meninggalkan Jakarta menuju Moskow. Aku melihat dirinya tengah menyembunyikan dirinya dari tatapan mataku di tengah keramaian. Dia bodoh sekali, padahal hari itu adalah hari ujian akhir skripsinya. Tetapi dia malah datang ke sini, dan sama sekali tidak mengucapkan selamat tinggal padaku, apalagi mencoba untuk mencegah kepergianku.

Ketika pesawatku perlahan menapaki tangga langit, aku menangis sejadi-jadinya. Rupanya kali ini aku salah, jika mencoba meyakini kalau aku mampu hidup jauh darinya. Baru sejengkal kami berpisah, hatiku perih. Tak kusangka, ini terlalu berat untuk kutanggung sendirian.

Aku benar-benar telah mencintainya. Tapi aku terlalu egois untuk memperjuangkannya. Atau mungkin terlalu dungu?

Aku tiba di Moskow keesokan harinya. Bersiap hidup tanpa dirinya lagi di dekatku. Tidak ada tanda kabar darinya di ponselku, tidak juga di email ku. Seminggu berikutnya juga begitu. Sama sekali tidak ada kabar darinya. Kecuali sebuah puisi yang dia karang sendiri, dan dia posting di blognya. Puisi yang tertuju padaku. Tapi tidak begitu terang. Namun aku yakin, itu untukku.

Kehidupanku di Moskow secara lahiriah baik. Teman-teman disini sangat pengertian. Aku juga banyak terbantu karena mereka, teman-teman Raka. Raka memang memiliki pergaulan yang luas. Termasuk di Rusia. Dia memiliki banyak teman yang menempuh study sepertiku di sini. Dari cerita teman-teman disini, Raka sudah mengontak mereka dan berpesan untuk menjagaku disini. Aku kembali berhutang kepadanya. Padahal jarak dirinya denganku sekian ribu kilometer. Tetapi, kebaikannya telah melampaui batas-batas territorial kedua Negara ini.

Minggu kedua, aku mengkontak Aidit. Berbasa-basi menanyakan kabarnya, sampai kemudian aku mengumpulkan keberanian untuk menannyakan kabar dirinya.

Dari cerita Aidit, Raka sama sekali tidak menunjukkan gelagat yang mengkhawatirkan. Dia tetap kuliah seperti biasa, berorganisasi seperti biasa, dan menulis seperti biasa. Bahkan dia sama sekali tidak pernah membahas diriku kepada Aidit.

“baiklah, kalau begitu dit. Aku titip Raka ya, dan berjanjilah, jangan pernah bilang kepada Raka kalau aku menanyakan kabarnya padamu.” Ujarku mengakhiri obrolan singkatku kepada Aidit via skype.

Sudah satu bulan aku disini. Aku benar-benar merindukannya. Melalui Aidit, aku terus menanyakan kabarnya. Namun terlalu penakut untuk menyapanya langsung. Aku berpikir bahwa akulah yang memulai untuk mengakhiri hubungan ini, maka, menjadi lebih tidak mungkin jika aku tiba-tiba –setelah menyakiti hatinya- hadir kembali dalam kehidupannya, dan seolah tidak terjadi apa-apa antara kami berdua sebelumnya.

Maka aku lebih memilih menelan bulat-bulat kerinduanku ini. Bertahan. Meskipun begoyang-goyang diterpa angin kerinduan.

Tinggalkan komentar

Belum Ada Judul II

Semua orang terlihat berjalan cepat menuju kampus, begitu juga aku. Di tengah musim dingin kota Moskow, kita harus banyak bergerak untuk menghangatkan badan. Salah satunya dengan jalan cepat. Kebetulan di dekat pintu masuk fakultas, aku berpapasan dengan Nikolai. Segera dia menyapa dan memelukku dengan hangat. Kemudian menjabat tanganku.

“kau nampak tidak jauh berbeda dengan terakhir kali kita bertemu di Jakarta. Masih terlihat sendu, Raka. Apa dia masih mengganggumu?” pertanyaan tipikal orang Eropa; selalu to the point.

“yeah, aku sedikit demi sedikit mulai membenci perubahan itu sendiri, nic” sautku. “untuk masalah yang lebih personal, ada baiknya kita membicarakannya di ruanganmu. Di sini begitu dingin” ujarku mengelak.

“baiklah, kau benar. Ruanganku ada penghangatnya. Kita bisa ngobrol sampai siang jika kau mau. Waktuku sepenuhnya untukmu hari ini” nikolai memapahku menuju ruangannya.

Sebagaimana ruangan seorang akademisi, nikolai juga begitu. Menghiasi ruangan kerjanya dengan deretan buku. Rak-rak buku itu hampir mengelilingi ruangan Nikolai. Ruangan kerja namun bernuansa perpustakaan.

“aku suka ruanganmu, nic. Kau harus membantuku untuk menghias kamarku dengan model seperti ruanganmu ini. Bantu aku menemukan toko buku yang murah di Moskow ini.”

“tentu, kawan. Moskow adalah surganya para kolektor buku. Dengan mudah kau akan mengumpulkan koleksi bukumu, dan harganya sangat terjangkau.” Nikolai tidak keberatan.

“jadi, di samping masalah temu-kangen ini, hal apa yang ingin kau sampaikan secara personal denganku, nic?” aku bertanya langsung padanya.

“haha. Kau juga tak berubah. Selalu to the point. Singkatnya, aku tengah mengerjakan proyek seperti waktu dulu dalam beberapa bulan terakhir. Aku hendak menerbitkan kumpulan essai-ku di Indonesia. Dan tentu hanya kepadamu aku bisa mempercayakan masalah penerjemahannya, kan?” ujar Nikolai bertanya.

“bukankah essai-mu itu belum diterbitkan juga di sini?” aku memastikan.

“ya, benar. Maksudku, aku ingin menerbitkannya secara berbarengan, baik di Rusia dan juga di Indonesia. Penerbitan kumpulan essai ini juga adalah bagian dari program kerjama sama budaya antara Negara kita berdua. Aku sudah menghubungi duta besar, dan mereka menyukai tulisanku.” Nikolai menerangkan.

“oya? Wah, kau sungguh mujur, kawan. Baiklah. Aku tak perlu pikir panjang untuk menerimanya. Tulisanmu selalu menjadi favorite-ku. Nic.” Ujarku segera.

“terima kasih, raka. Tapi ada satu syaratnya” ujar Nikolai.

“syarat? Maksudmu?” aku ingin tahu.

“kau harus bekerja sama dengan rekanku dalam mentranslasi karyaku. Sebab, dialah yang meyakinkanku untuk mengerjakan proyek ini, dan menghubungi kedubes Indonesia dan Rusia untuk mendukung karyaku” ujar nikolai.

“baiklah kalau begitu. Selama kami berdua bisa bekerja sama dengan baik” aku menanggapi. Namun sedikit terusik dengan syarat yang diminta oleh Nikolai tadi. Siapakah orangnya.

deal, ya?” ujar Nikolai sambil mengulurkan tangan kanannya.

“deal” ujarku segera mengulurkan juga tangan kananku, dan menjabat tangannya.

“jika sesuai janji, rekanku itu akan datang sebentar lagi ke ruangan ini.” Nikolai menyeka lengan bajunya, dan melihat jam yang ada di tangan kanannya. Sesaat kemudian, Nikolai menelpon asistennya di luar ruangan, memesan kopi hangat tiga buah agar segera dibawa ke dalam ruangannya.

“kau tahu Raka, aku menikmati karyamu yang kau tulis di Blog” ujar Nikolai tiba-tiba.

“maksudmu? Blog pribadiku?” aku sedikit terkejut. Bukankah blogku ku tulis dalam bahasa Indonesia semua? Bagaimana bisa nikolai menyukai tulisanku di blog, jika kutulis dengan bahasa Indonesia.

“ya, blogmu. ” ujar nikolai lagi.

“memangnya kau bisa berbahasa Indonesia?” aku bertanya penasaran.

“tentu tidak. Tapi, beberapa waktu lalu, ada seseorang yang menerjemahkan karyamu ke dalam bahasa inggris, dan menerbitkannya di majalah Literary Today. Ini sudah kali ke lima tulisanmu muncul disana. Dijelaskan bahwa tulisanmu itu dia terjemahkan dari blogmu.” Nikolai tersenyum.

“aku menebak, pastinya dia adalah seorang Indonesia, ya? Atau seorang indonesianist?” aku mulai penasaran dengan kata-kata yang keluar dari mulut nikolai ini.

Setahuku, aku tidak pernah memberikan izin kepada siapapun di dunia ini untuk menerjemahkan tulisan-tulisanku di blog. Apalagi sampai mempublikasikannya di sebuah jurnal yang cukup representasi untuk ukuran majalah sastra dunia. Aku berada diantara perasaan bangga dan marah. Bangga karena tulisanku diterbitkan disana, sekaligus marah, sebab penerjemahan dan penerbitan itu tidak dilakukan sepengetahuanku.

Tak lama berselang, pintu diketuk oleh seseorang dari luar.

“silahkan masuk” Ujar Nikolai.

“selamat pagi” ujar seseorang yang suaranya aku rindu itu tiba-tiba.

“nah, ini dia. Nia. Kami baru saja membahas tentangmu. Perkenalkan, ini Raka, tentu kau juga sudah kenal dengannya, bukan?”

Aku dalam posisi duduk pada meja kerja dan berhadapan dengan Nikolai. Posisiku sebenarnya membelakangi pintu tempat pemilik suara yang kurindu itu masuk. Aku ragu, antara harus seketika langsung menoleh ke pemilik suara itu, dan bersikap terkejut seolah-olah kami sudah kenal, dengan sambutan yang hangat selayaknya kami berdua adalah teman lama, atau harus menahan diri untuk tidak menoleh, berlagak tidak mengenal pemilik suara itu, berlagak bego dan pura-pura tidak mengerti alur cerita yang disusun oleh Nikolai, dan menyalami jemarinya dengan salaman yang dingin.

Pada akhirnya aku memutuskan opsi yang kedua.

“ya tentu, kami berdua kenal” suara itu kudengar mendekat. Tangannya singgah di pundak kananku, dan dia langsung mengambil tempat duduk tepat di sebelah kananku.

“Raka lah yang mempermudah proses penulisan skripsiku di Jakarta, dan banyak memberikan masukan mengenai karya sastra Rusia. Dia begitu terinspirasi dengan Gorky, sebenarnya Nic.” Nia bersikap hangat, dan begitu friendly. Dia langsung masuk ke dalam percakapan kami tanpa perlu membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan suasana yang begitu sesak ini.

Aku terdiam. Belum bisa mengatur irama jantungku dan juga mengkontrol emosi di dalam dadaku sendiri. Kedatangan Nia begitu tiba-tiba. Jujur, aku tidak memiliki persiapan untuk bertemu dirinya secepat ini. Berikutnya, kalimat yang meluncur dari mulutku, kurasa begitu singkat, dan patah-patah.

“ya, begitulah” ujarku membenarkan pernyataan Nia.

“oh, benarkah, Raka? Aku terkejut jika Gorky adalah novelis yang kau suka. Sebab, gaya menulismu, yang diterjemahkan langsung oleh Nia, menurutku cenderung seperti Marquez. Bergaya realisme magis. Juga dengan sentuhan gelap yang begitu pekat, ala Dostoyevsky, Sabato, atau Camus.” Ujar Nikolai menanggapi.

Aku belum lagi mampu mengikuti percakapan yang tiba-tiba ini. Belum ada lagi kalimat yang meluncurr dari mulutku untuk menyeimbangi kedua orang di ruangan ini. Otakku sepertinya terkena virus yang membuat semuanya perlu di restrart.

“kau tau nic” ujar Nia mencoba memecah kebisuan.

Aku baru sadar jika Nia juga rupanya memanggil Nikolai dengan panggilan Nic. Padahal seingatku, nikolai pernah mengatakan bahwa hanya aku yang memanggil nikolai dengan panggilan nic di dunia ini. Lebih banyak orang memanggil namanya dengan sebutan nama belakangnya, bukan nama depannya.

“setidaknya, ada lima buah cerpen yang pernah ditulis Raka dalam blognya dengan gaya menulis mirip Gorky. Tapi itu dilakukannya ketika kami masih sama-sama kuliah di Jakarta. Waktu itu kami masih menjadi aktivis. Mungkin, karena pengaruh itu, gaya menulis Raka sangat ke Gorky-gorky-an. Begitu bersemangat, meletup-letup, dan patriotik. Jujur, aku juga merindukan Raka yang seperti itu” ujar nia bersemangat. Sebuah kalimat yang membuatku merasa tengah dilemparkan ke sebuah sumur yang begitu dalam.

Aku lagi-lagi belum mengeluarkan sepatah-katapun.

“benarkah? Akan sangat baik jika kau juga mau menerjemahkan cerpen itu untukku, Nia. Aku dengan senang hati menerbitkannya di Rusia” ujar Nikolai bersemangat.

“tentu saja, Nic. Asal penulisnya sendiri mengijinkannya. Karena sebelumnya, aku menerjemahkan tulisan-tulisannya tanpa seijin dirinya. Dan aku yakin dia juga baru kau beri tahu bahwa akulah yang mempublikasikan karyanya di sini.” Ujar nia hati-hati.

“bagaimana menurutmu, raka?” Nikolai menimpali.

Aku hanya memberikan anggukan kepala dua kali tanda setuju. Tentu sambil tersenyum yang sedikit kecut.

Harus ku akui, ya, aku berada diantara kesal dan bahagia dalam situasi ini. Aku kesal, karena mengetahui bahwa Nia masih bisa bernafas dengan lancar, menjalani hari-harinya seperti sedia kala, mengerjakan proyek-proyek sastranya dengan baik, meski tanpa diriku disisinya. Meski bukan aku lagi yang menjadi ‘lelakinya’. Aku benci untuk yang ini. Dalam logika hidupku, akulah yang seharusnya menjadi pusat kehidupan orang di dunia ini, termasuk Nia. Bukan sebaliknya. Orang-orang, termasuk Nia, harus bergantung denganku. Setidaknya, hidupnya berjalan tidak normal jika mereka mencoba untuk independen, dan memiliki pikiran untuk terbebas dari diriku.

Aku mengakui bahwa aku memiliki kepribadian yang cukup dominan. Dalam segala hal. Tapi, ketika aku bertemu Nia, secara perlahan otoritas itu menjadi tidak relevan. Aku yang lebih sering tunduk dengan logika hidupnya. Aku yang lebih sering menuruti tujuan-tujuan hidupnya. Aku juga perlahan-lahan mulai terbiasa dengan selera hidupnya; cara berpakaian, jenis music, jenis bacaan, selera makanan dan minuman, hidup dengan sangat disiplin dan focus, itu semua adalah ‘cara hidup Nia’. Kepribadianku tersedot oleh kepribadian dirinya.

Tapi anehnya, selama aku dapat berada disamping dirinya, aku tidak pernah keberatan untuk menurunkan sedikit egoku.

Tapi, kuakui juga, aku bahagia. Bertemu dengannya, membuat rasa kesal ini terasa menjadi tidak relevan. Meskipun aku sadar, ada jarak yang jelas antara aku dan dia; dia, nia, sudah bertunangan. Hal yang selama ini terus kuteriakkan kepada diriku sendiri, agar tergerak untuk tidak mengingat-ingat lagi dirinya.

Tinggalkan komentar

Sang Psikolog

lilin3Kucing itu terus saja membulatkan tubuhnya, dan tidur dengan tenang di halaman depan rumah ku. Aku sudah memperhatikannya dari dua jam yang lalu. Selama dua jam belakangan ini, aku juga hanya duduk di teras depan, ditemani secangkir kopi dan biscuit, serta senja mentari yang perlahan-lahan meminta diri untuk kembali ke peraduan.

Selama sebulanan ini, aku kehilangan semangat dalam bekerja. Sebagai seorang psikolog, yang sudah kujalani selama dua puluh tahun, pada akhirnya aku terjebak kejenuhan. Mendengarkan dan menanggapi setiap orang yang konsultasi kepadaku tentang masalah-masalah pribadinya kepadaku, kini terasa tidak lagi menjadi  suatu hal yang aku inginkan. Bahkan, kali ini aku merasakan bahwa aku sudah kehilangan alasan untuk meneruskan profesi ini.

Istrikupun tidak menjadi tempat pelarian yang menyenangkan. Dia selalu seperti itu. selama lima belas tahunan ini, dia selalu menceritakan dunianya, yang menurutku begitu sepele. Dia menghabiskan pendapatan yang aku peroleh dengan rangkaian koleksi tas terkini, sepatu kulit yang mewah, dan pakaian para wanita terhormat. Interaksi intim kami selama ini hanya terjadi di kasur, selebihnya, kami bersikap dingin dan sewajarnya. Tidak ada masalah rumah tangga berarti yang melanda rumah tangga kami. Kami juga memutuskan untuk tidak memiliki anak, yang akan membebani kami pada akhirnya. Rumah tangga bagi kami hanyalah status sosial, tidak lebih. Sepanjang kami berdua bisa terus mencukupi kebutuhan materi kami satu sama lain, termasuk kebutuhan seks, itu sudah cukup. Aku yang lulusan pendidikan Barat, kadung menjadikan pemikiran sekular-materialistik sebagai pandangan hidup. Sementara istriku, anak dari seorang politisi ternama di negeri ini, dari kecil terbiasa hidup mewah, berpendidikan Barat, juga mengamini cara pandang hidupku.

Kami berdua adalah pasangan suami-istri yang tercerabut dari akar sosial penduduk Indonesia. Berpikiran individualistis, mengisolasi diri dengan memilih tinggal disebuah komplek perumahan paling mahal di ibukota, memagari istana dengan pagar yang menjulang tinggi, mempekerjakan asisten rumah tangga agar terhindar dari pekerjaan rutin seorang suami-istri pada umumnya, dan selalu skeptis dengan aneka kegiatan gotong royong yang sering digagas oleh kepala RT komplek.

Agama bagi kami berdua adalah ilusi. Itu tidak benar-benar ada. toh, kami tetap bisa mencapai kesuksesan hari ini karena kerja keras, bukan dengan banyak-banyak berdoa di hadapan Tuhan, dan membuat kami harus ‘menghamba’. Aktifitas keagamaan pun bagi kami sekedar citra sosial. Aku pergi ke masjid di setiap jum’at, dan terus-menerus melancarkan kritik-kritik tajam di dalam hatiku kepada setiap materi khutbah jum’at yang disampaikan khotib. Istriku berkerudung, dan menghadiri buka puasa bersama, jika ada kegiatan yang digagas oleh yayasan miliknya. Selebihnya, kami menyimpan agama di saku dompet kami.

Sebagai seseorang yang tumbuh dewasa dengan alam pikiran Nietszche, Sartre, Freud, atau Marx, aku jelas-jelas berada pada satu garis lurus dengan pandangan-pandangan mereka semua. Namun, tidak akan pernah membahas pandanganku tersebut di hadapan orang lain. Karena bagiku, itu semua percuma. Tidak ada orang yang mampu, atau benar-benar bisa memuaskan hasrat intelektualku yang tinggi tentang relasi agama dan psikologi manusia. Tidak juga istriku yang hanya hafal dua nama nabi; Adam As. dan Muhammad Saw.

Istriku tidak menjadi penawarku. Tidak pernah. Sensitifitasnya pun kurang. Semuanya serba terlambat, sampai kemudian aku secara mengejutkan mengajukan diri berhenti dari pekerjaan sebagai psikolog pada sebuah rumah sakit milik pemerintah dekat rumah, dan menutup klinikku sendiri. Aku merasa seperti lilin yang terus bersinar, menerangi setiap orang, namun perlahan-lahan lenyap. Dilupakan. Tanpa ucapan terima kasih, baik di awal maupun diakhir. Setiap aku memberikan nasihat dan solusi kepada orang lain, setiap itu juga bathinku tergerus. Jiwaku kering kerontang. Nasihat-nasihatku terasa dipenuhi omong kosong. Kebijaksanaanku hanyalah seharga rupiah demi rupiah yang mereka berikan padaku, sebagai ganti karena telah meluangkan waktu untuk mendengarkan setiap curahan hati mereka.

Ketika seharusnya aku menuntun mereka, pasienku, keluar dari ketersesatan bathin, aku justru telah lebih dahulu tersesat dalam kehidupan yang dipenuhi paradoks, yang disebabkan keterbelahan prinsip hidupku selama ini, memandang hidup ini hanya dari satu segi saja; materi.

Aku berada dalam sebuah labirin, yang rasanya tidak mungkin aku keluar darinya. Entah kenapa, dalam perenunganku selama sebulan terakhir ini, aku mulai merindukan cinta pertamaku kembali; seorang gadis desa, lugu dan polos, rambut yang tersengat mentari pantai yang menghadap samudera hindia, dan memiliki kecantikan ala desa; natural. Menurutku, senyumnya lebih baik dari pada aneka make-up  yang coba dibubuhkan oleh istriku sendiri.

Selain itu, aku teringat dengan aktifitas masa kecilku dulu di kampung. Mengajii di surau, menghafal surat-surat pendek, menjadi muadzin setiap subuh dan magrib, dan berlelarian dengan sebaya menuju surau berebut memukul bedug.

Aku juga menginginkan seorang anak kecil di tengah-tengah kami. Yang mampu memecahkan kekakuan hubunganku dengan istriku. Yang mampu memberikan sentuhan emosional dalam kehidupan kami berdua. Yang mampu memunculkan masalah demi masalah rumah tangga, sebagai mana pasangan suami-istri pada umumnya. Aku juga menghendaki sebuah hubungan yang dalam, antara aku dan istriku. Bercerita satu sama lain tentang kesibukan hari ini, tukar menukar pemikiran tentang suatu hal, menghabiskan malam berdansa lagu kesenangan, dan mengakhirinya dengan candle light dinner yang kami masak berdua.

Tapi aku sadar itu tidak mungkin. Istriku akan menertawakan gagasanku ini. Dia akan menyebutku kolot dan konservatif. Aku benci jika dia berkata seperti itu. sekaligus, harga diriku terlampau tinggi untuk larut dalam melankoli seperti ini. Terlalu naïf untuk mengakui bahwa pada akhirnya aku membutuhkan sentuhan emosi dan spiriualitas sekaligus. Kesimpulannya, aku akan meneruskan hidupku seperti ini. Seperti apa adanya. Tidak menghendaki adanya sebuah perubahan yang signifikan, terutama pada skala kepribadian tadi. Tidak.

Kuputuskan, esok hari aku akan kembali ke kantorku, dan meminta maaf atas keputusanku kemarin. Kemudian, sore hari aku akan membuka kembali klinik di rumahku, dan mendengarkan ocehan demi ocehan manusia yang tengah kalah dari kehidupan. Malam harinya, aku akan tidur disamping istriku, dan bangun di awal waktu untuk mengerjakan hobi lamaku; membaca novel roman.

 

Tinggalkan komentar

Belum Ada Judul

Pesawat itu pergi menjauh. Mengangkasa. Tinggi, menggantung di awan, selayak lelayang yang membelah udara. Pertama, mesin terbang itu berlari kencang di landasan pacu. Kemudian menaiki tangga langit. Setelah itu mengecil. Menjadi titik. Dan, yang tersisa hanya asap-asap jelaga hatiku yang patah. Sementara, aku menangisi kepergiannya ke Moskow, di atas sana, tepat di lambung burung raksasa yang mengangkut ratusan manusia lainnya di dalamnya, aku mematung diam. Meremas erat-erat kepedihan hatiku di kepalan tangan.

….

Satu tahun, setelah aku patah hati di bandara Soekarno-Hatta, aku langsung mendaftarkan diri di program pasca, jurusan sastra. Aku melanjutkan hidup. Dua tahun cukup bagiku kuliah di sana. Lima puluhan cerita pendek, sekian ratus puisi, delapan buah novel, menjadi out put luka hatiku. Dan kesemuanya dengan tema yang sama; patah hati. Orang-orang dekatku, pada awalnya mengapresiasi karyaku itu. Namun, setelah sadar bahwa yang aku tulis kesemuanya dengan tema yang serupa, mereka berbalik mengkritik. Walau, mayoritas dari mereka juga sebenarnya tetap berkomentar bahwa tulisan-tulisanku itu selalu enak dibaca. Memang temanya sama, namun dengan cara penulisan, cerita, dan alur yang selalu berbeda-beda.

Di lemari pribadiku, terpajang dua puluh piala penghargaanku –secara personal- di bidang sastra. Berkat itu juga, aku dijuluki the new Sapardi oleh media SastraJiwa. Berkat semua itu, aku juga langsung mendapat penawaran beasiswa full, untuk memperdalam kemampuanku ke Moskow. Aku senang, sekaligus ragu. Moskow, makin pedihkah nanti hatiku jika ke sana?

“Bagaimana, baguskan tetralogi Buru-nya Pram?” ujar Aidit kepada Raka.

“Wajar, kalau Pram sepanjang hidupnya lebih banyak di kurung di dalam penjara. Karyanya begitu provokatif untuk ukuran zamannya, dit.” Jawabku sambil tidak memalingkan mata dari buku yang berjudul “Arus Balik”.

“oh iya ka, aku mau pinjam les miserables-mu ya. Penasaran nih.” Aidit mengambil sebuah buku novel kolosal dari rak buku ku. Setelah mendapatkannya, dia segera minta diri, pamit pergi ke dalam kamarnya yang tepat di sebelah kamarku.

Adit seorang teman satu kos, namun beda kamar. Dia anak sastra juga, bekerja sebagai wartawan. Dia punya minat dalam dunia sastra latin. Marquez dan Neruda diantaranya. Menurutnya, sastra latin unik. Mereka, para sastrawannya, seolah tidak perlu repot-repot untuk mengusung nasionalisme tanah airnya dalam setiap cerita-cerita mereka. Hal yang berbeda dengan karya dari Rusia, Jepang, atau Tiongkok.

Setelah kedatangan Aidit, kamarku kembali hening. Tinggal aku dan “Arus Balik”. Keadaan seperti ini; membaca buku novel, duduk di meja kerja, sembari ditemani kopi tubruk hangat di gelas bertangkai merah, adalah keadaan yang selalu kupilih jika aku selesai menjelajahi blog dirinya; sastrapahit. Rutin memang, setiap seminggu dua kali, aku mengikuti perkembangan di dalam blognya tersebut. Terakhir, tulisannya yang berjudul “Bintang Bulan” begitu berasa di dalam hatiku. Tulisan yang seolah tertuju untuk diriku. Walau kemudian aku cepat-cepat menepis pikiran seperti itu.

Terlintas memikirkan tulisan itu, membuatku terganggu untuk khidmat “menghabisi” Jejak novel tadi. Pikiranku, dan konsentrasiku, malah mengembara ke kota Semarang. Kota di mana semua kisah pahit ini dimulai.

Dalam keheningan, aku berjalan ke arah rak buku. Kutarik buku berjudul “The Rebel”nya Camus. Kusisir lembar demi lembar halamannya. Mencari photo “dirinya”. Photo yang masih dengan ekspresi mencintaiku. Photo yang sengaja kuselipkan di dalam novel tersebut. Novel pemberiannya. Sambil berujar, “memberontaklah dengan matang, namun tetaplah lembut tanpa melupakan perasaanmu sendiri…”

Aku terkenang peristiwa dimana aku memperjuangkan agar jurusan sastra menolak pencalonan seorang dosen sebagai dekan. Dan aku memang berhasil menggiring teman-teman untuk menggagalkan pencalonan dosen tersebut, yang kami nilai terlalu oportunis. Mungkin juga serakah. Meski konsekuensinya, dia membantaiku di sidang akhir, dan aku urung menerima kalung ‘cumlaude’ di akhir perjuangan akademikku. Tapi aku tidak menyesalinya.

Aku duduk di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Duduk, menggenggam espresso hangat, sambil mendengari Love of my life-nya Queen. Suara Freddy Mercury meliuk lincah memenuhi telingaku. Kemudian, mataku terpejam. Menenangkan diri. Perjalanan ke Moskow, dengan kemungkinan lamanya aku tinggal di kota itu selama 2 sampai 3 tahunan untuk program PhD, juga kemungkinan bertemu dia, membuatku tidak nyaman. Aku resah, diimbangi degupan jantungku yang kian menjadi-jadi. Saking keras dan kencangnya degupan jangtungku, suara orang lalu-lalang, pengumuman dari pusat informasi penerbangan, malah tak terdengar. Diam tak bersuara. Di telingaku, bukan lagi Freddy yang berkumandang, namun suara jantung yang tak beraturan. Pelan-pelan, kenangan dengan dia mulai berkelebat di dalam kepalaku.

Namanya Nia. Gadis ayu yang sedari tadi membuatku gelisah. Atau mungkin lebih tepat…. ‘tak bernyawa’. Kami bertemu di pelataran Perpustakaan UI. Aku menyeruput kopiku, dan dia mendengarkan sesuatu melalui headset yang menempel di telinganya. Kulihat itu terhubung ke hand phonenya.

Langit waktu itu tengah memanen awan. Cuacanya cerah. Di dalam kepalaku, aku memutar lagu The Beatles-Black bird. Ini sudah menjadi kebiasaan. Aku menyanyikan lagu-lagu kesukaanku di dalam bathin. Seolah-olah suara Lennon, bergaung-gaung di kepalaku. Aku juga pada awalnya tidak memperhatikan dia. Aku hanya duduk santai menikmati kopiku sore ini. Hadiah bagi diri sendiri karena telah menamatkan sebuah novel tebalnya Eka, Beauty is Wound. Sampai kemudian, tiba-tiba dia telah duduk di hadapanku. Berbasa-basi, dan menceritakan kesannya tentang novel yang tergeletak di sebelah cangkir kopiku, “Pasar Malam”.

Sebulan setelahnya, kami menjadi akrab. Terlibat banyak diskusi –berdua saja- tentang novel-novel Pram, Eka, dan Camus. Baginya, ketiga novelis itu adalah gerbang awal dirinya mengenal sastra dunia. Tapi, tidak bagiku. Aku justru tidak begitu tertarik tentang sastra. Aku hanya penikmat novel. Dan kebetulan, aku memang akrab dengan nama-nama tersebut.

Rupanya dia juga satu jurusan denganku. Adik tingkatku, lebih tepatnya. Menjadikan Chekov dan Tolstoi sebagai bahan skripsinya dengan menggunakan metoda komparasi. Kebetulan, aku juga penikmat sastra rusia. Di samping nama-nama tadi, ada nama seperti Dostoyevsky dan Gogol, beberapa novelis rusia yang kusukai karyanya. Dan koleksiku komplit. Maka, terpaksa aku menjadi ‘pembimbing skripsi’ un official bagi dia. Aku senang-senang saja.

Bulan kedua, aku jatuh cinta.

Bulan ketiga, kami menapaki sebuah hubungan yang lebih ‘dewasa’. Meski tanpa kata ‘cinta’ sepanjang perjalanan kisah kasih kami. Kami biasa berjalan bersama. Mendendang lagu bersama. Berjuang bersama di Grup Diskusi UI (GD UI) dalam menumbangkan dosen yang ku singgung di atas tadi. Dan saling berbalas surat setiap minggunya, meski kediaman kami sebenarnya berada di kota yang sama.

Bulan kedua belas, kasih kami sepertinya mau kandas. Dia tertarik melanjutkan study ke St Peters Burg. Dia tamat lebih dulu, aku sedikit terlambat, karena konsekuensi dari aksi yang ku gagas waktu itu. Aku tak rela. Aku menjadi tidak dewasa. Dan dia tidak perduli. Dia memang wanita yang berorientasi pada karir, dan fokus dengan tujuannya. Harus ku akui, itulah daya tariknya selama ini.

Bulan ketiga belas, aku mendengar kabar bahwa dia bertunangan. Hatiku hangus terpanggang kenyataan. Asapnya mengepul di dalam genggaman jemari tanganku. Aku membanting tiga buah gelas kaca. Gelas yang bertuliskan namanya dan namaku.

Bulan kelima belas, aku berangkat menyusul dirinya. Mengetuk pintu flatnya. Tiba-tiba memeluknya. Dan sadar, bahwa dia bukan lagi Nia yang dulu. Pelukan yang dingin. Datar. Keberadaanku rupanya bukanlah kejutan baginya, kurasa lebih seperti ‘beban masa lalu’.

Aku menanyakan posisi hatiku di hatinya. Dia menjelaskan panjang lebar, bahwa hubungan kami selesai, begitu aku dan dia tidak sejalan tentang visi masa depan kami berdua. Kutanya, apakah selama berpisah, dia menderita? Dia menjawab dengan datar; tidak.

Hari kedua aku meninggalkan dia. Kemudian mematung di Gorky Park. Sorenya, aku kembali ke Jakarta. Tiga bulan kemudian, aku menyelesaikan kuliahku. Dan benar-benar memutuskan untuk melupakan Nia. Aku melanjutkan study magisterku di UI. Semakin produktif karena memanfaatkan rasa pedih di hatiku dengan sangat baik. Aku juga contributor tetap di majalah yang dia senangi, Sastra Kita. Aku mendiami rumah yang tepat berhadap-hadapan dengan rumahnya dulu ketika menyelesaikan skripsinya. Aku berpenampilan necis, seperti yang sering dia katakana kepadaku dulu.

Dua tahunan ini, memang ku akui ada begitu banyak paradoks dalam kehidupanku. Aku ingin melupakannya, namun menyimpan photonya. Aku ingin membencinya, namun menerima beasiswa ke Negara yang sama dengan dirinya. Aku ingin memaki dirinya, namun terus mendengarkan lagu-lagu miliknya. Dan masih sering duduk, meminum kopi, di tempat dimana kami bertemu dulu.

Adit mengatakan aku ini naïf. Tapi aku menyangkal bahwa itu tidak ada hubungannya dengan ‘dirinya’. Adit mengejek, bahwa aku seperti Romeo, yang tersesat dalam romantisme platonik. Aku mengatakan bahwa aku adalah Minke, yang bertumbuh dan dewasa karena rasa sakit.

Tapi setelah aneka debat tersebut, dalam renungan, aku membenarkan setiap perkataan Adit tadi. Aku memang bertumbuh dalam hal kehidupan sosial. Tapi aku mengerut secara kepribadian.

Moskow menyambutku dengan rintik hujan. Andrei menyambutku di pintu kedatangan. Segera menyalamiku, dan menggiringku ke taksi. Selama di mobil, kami langsung membahas persiapanku dalam menyelesaikan study Phd. Dia menjelaskan, Dean sudah lama menunggu kedatanganku. Besok pagi, ujar Andrei, Dean ingin aku menemaninya menikmati secangkir kopi secara personal di ruang kerjanya.

Aku memang sedikit dekat dengan Mr. Nikolai, Dean di fakultasku nanti. Tiga kali aku menerjemahkan cerpen dan novel karangannya ke dalam bahasa Indonesia. Pada waktu itu aku tidak memiliki pretensi apapun kepada Nikolai. Aku baca cerpennya, tanpa sengaja di internet. Menurutku sangat bagus. Aku kemudian tergerak untuk menerjemahkannya ke dalam blog ku. Dua bulan kemudian, email darinya datang, yang menawarkan proposal kerja sama untuk menerjemahkan karya-karyanya, dan mencarikan penerbit yang kredibel untuk menerbitkan dan memasarkannya. Aku pun tertarik dengan proposal tersebut. Tanpa keberatan, aku menerjemahkan karyanya. Enam bulan lebih aku menerjemahkan karyanya dengan tekun, di sela kesibukkanku menyelesaikan tesisku.

Hasilnya memang sangat impresif. Kumpulan cerpen Nikolai, dan dua novelnya yang diterbitkan secara berjeda, sangat laku di pasaran. Bahkan, aku kerap beberapa kali mewakili Nikolai, diundang beberapa kampus untuk membedah novelnya di hadapan para penikmat sastra Indonesia. Bahkan, dalam jamuan antara dubes Rusia dan Indonesia, yang membahas tentang saling bertukar budaya diantara kedua Negara, Nikolai mengundangku untuk datang, yang rupanya, di acara tersebut, Nikolai juga hadir dan memberikan penawaran beasiswa yang kemudian aku terima. Sebuah pengalaman yang menarik, menurutku.

Aku tinggal di sebuah flat yang nyaman. Bertingkat lima belas, dan aku tinggal di tingkat ke delapan. Yang aku suka, jendelanya menghadap ke gerbang kampusku. Lama aku mematung di samping jendela. Memikirkan banyak hal. Betapa cepatnya takdir menuntunku ke Negara ini. Negara yang ‘dia’ kagumi kemegahan karya sastranya. Kubuka sedikit jendela, dan menyesap sebatang sigarets dalam-dalam, dan menghamburkan asapnya. Berhamburan juga keteganganku di dalam dada seiring asap sigarets yang kuhembuskan itu. memang paling enak menyesap sigarets, di tengah cuaca yang begitu dingin di kota Moskow ini.

Aku baru tahu, jika rembulan di Moskow, lebih indah dibanding rembulan di Jakarta. Indah, karena dibingkai dengan perasaan yang merasa lebih dekat dengan kekasih yang kita cintai diam-diam.

Aku menghabiskan malam pertama di Moskow, dengan duduk terpekur di dekat jendela, dan berteman beberapa batang sigarets dan dua cangkir kopi beraroma musim dingin kota paling angkuh di jagat Eropa di abad millennium pertama. Pukul 7 pagi, aku membersihkan diri, dan bersiap menuju kantor Nikolai. Aku menggunakan setelan musim dingin. Melangkahkan kaki ke gerbang kampus dengan hati mantap.

 

Tinggalkan komentar

Hiroshima

DSC_0723Semula aku sangka itu adalah burung agung yang ada di dalam legenda. Rupanya bukan. Itu adalah pesawat tempur, berbendera milik Negara super power yang terletak di Amerika Utara. Sekian menit berselang, burung-burung baja itu melemparkan berton-ton atom dari langit. Dampaknya sungguh luar biasa; Menggoyangkan semesta pasifik, melahap habis Hiroshima tanpa sisa, menelan tanpa ampun Nagasaki, dan membuat Perdana Menteri Militer Jepang, Hideki Tojo terperangah setengah tak berdaya; hilang sepenggal wilayah Jepang. Seperti terkena stroke, yang mematikan fungsi tubuh sebelah kanan. Tojo tidak mengira jika bom atom itu benar-benar ada. rupanya, ilmuwan gila yang disanjung setinggi langit karena kejeniusannya, dan gambarnya yang suka menjulurkan lidah, berhasil menjadikan senjata pemusna massal itu menjadi nyata. Serangan telak ini mengacaukan semua scenario penaklukkan Jepang.

Kaisar Hirohito gagal menelan air ludah. Tenggorokannya kering. Ambiguitas dirinya dalam menyikapi egoisme Militer yang kukuh dengan obsesinya untuk memeluk Asia dalam dekapan Jepang; sebagai pemimpin, saudara, dan cahaya Asia, justru membuat negerinya terancam bubar. Seketika, Sang Kaisar mengumumkan negaranya menyerah tanpa syarat terhadap pasukan sekutu. Presiden Negara Adikuasa, Truman, merespon itu dengan positif. Dia berjanji singgasana Kekaisaran Jepang tidak akan digoyah, asal Jepang tulus menyerah kalah.

Koalisi tukang jagal Fasis, antara Jerman, Italia, dan Jepang, yang semula dikira gagah, rupanya rapuh di dalam. Hitler justru diam-diam menggenggam jemari, berdoa agar Jepang tidak menunda ekspansinya ke Manchurian, dan terus menohok teritori Joseph Stalin di jantung Moskva. Dengan begitu, Hitler bisa melebarkan sayap hingga ke timur Eropa. Mengembalikan keunggulan Ras Aria. Begitu juga Musolini. Sebenarnya tidak pernah perduli dengan agenda Jepang dan jerman. Yang ia pedulikan, adalah mewujudkan kembali hegemoni kekaisaran Roma seperti dulu kala. Jadi, masing-masing isi kepala ketiga orang ini; Hideki Tojo, Adolf Hitler, dan Benito Mussolini, tidaklah sama. Masing-masing memikirkan, dan mendahulukan agendanya sendiri atas kawan koalisinya.

Sebelum pesawat yang kusangka burung legenda itu memuntahkan atom tepat di atas kepala kami, aku tengah asyik bermain layangan. Langit cerah. Ketebalan cahaya mentari sempurna. Angin pun mendukungku untuk mengangkasakan layanganku. Jemariku cekatan mengemudikan layangan. Meliuk-liuk di atas langit, bak parade Angkatan Udara dalam mendemonstrasikan keberhasilannya menjinakkan burung besi raksasa itu di atas langit kami dua bulan yang lalu. Mereka beregu. Berguling-gulung di atas awan, sesekali menyemprotkan asap berwarna-warni. Kemudian ratusan pasang mata berkejap-kejap. Kagum. Di akhir pertunjukkan dirgantara itu, tiba-tiba salah satu pesawat yang berukuran sedikit kecil, membentangkan spanduk panjang bertuliskan kalimat propaganda khas Militer; Jepang Pemimpin Asia.

Pelan-pelan, angin menderu kencang. Membuat kemudiku atas layanganku sedikit terguncang. Aku kehilangan kendali. Lantas layanganku ke kanan dan ke kiri. Tak keruan arah. Tiba-tiba, “tuss!” layanganku putus. Langit menghitam. Mentari dicuri sebentar oleh dewa-dewa. Kulitku merasakan hawa panas tak tertanggungkan. Sekejap, kilatan cahaya memblitz mata kami bak kamera raksasa. Bau bahan-bahan kimia meruyak masuk ke dalam saluran pernafasan kami. Tubuhku tiba-tiba terpental begitu jauh. Sepertinya, atom itu, atau bom atom itu, telah dilontarkan tepat di atas kepala kami. Aku yang berusia 11 tahun, langsung membayangkan inikah peperangan alam kayangan? Menyilaukan mata, memekikkan telinga, dan membuat nafas tercekat? Dari tanah lapang tempat aku bermain layangan, aku terpelanting  200 Meter masuk ke sungai deras yang ada disebelahnya. Kepalaku terantuk batu yang begitu kokoh. Kulihat sekejap, sebelum kesadaranku hilang, warna air memerah saga. Air sungai yang kutahu rasanya begitu dingin dan segar, seketika mendidih. Aku seperti telur rebus. Hanya terbujur kaku, pasrah, dengan wadah tali senar layangan masih kugenggam erat-erat. Inilah harta terakhirku. Harta karunku.

Semua kegaduhan itu, membuatku sulit sekali membukakan mata. Rasanya tubuhku pun sulit untuk digerakkan. Aku kehilangan kemudiku atas kedua kakiku. Kedua tanganku sepertinya kehilangan rasa. Badanku nyeri sejadi-jadinya. Kepalaku pusing sekali.

Ketika aku sadar, aku kaget luar biasa. Rupanya aku berada dalam sebuah ruangan yang begitu rapi dan bersih. Bukan terbaring di hutan raya, seperti bayangan terakhirku ketika hanyut di sungai. Aku juga mengenakan pakaian khas orang sakit. Nampaknya aku di rumah sakit. Aku memicingkan mata. Melihat tanggalan yang tertempel di dinding, seberang kasur pembaringanku. 18 Oktober 1980. Aku mengingat-ingat, rasanya, ketika aku terpelanting masuk sungai, terhempas dan jatuh dari jurang curam, aku berusia 11 tahun. Penanggalannya juga 5 agustus 1945. Tapi, ini 1980? Bukankah itu artinya sudah 35 tahun berlalu? Aku melihat sekujur tubuhku; benar saja, tubuhku sendiri membesar. Lebih tepatnya bertumbuh. Kesadaranku yang spontan, ternyata disadari oleh salah seorang perawat yang kebetulan lewat di kamarku. Dia sepertinya lebih kaget dari pada aku. Melompat histeris. Memekik sekaligus menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Berlari ke arah sebaliknya. Bertubrukan dengan dokter, setelahnya aku tidak tahu lagi apa. Dia menghilang dari pandanganku.

Setelah histerisnya perawat tadi, rupanya semua dokter, berkumpul mengelilingiku. Salah satu dari mereka memeriksa alat-alat canggih di sebelah kiriku. Satunya lagi melihatku dengan lembut. Seorang dokter tampan, berkacamata, dan memiliki uban yang berwibawa. Dia menerangkan dengan jelas, bahwa sekarang ini benar-benar tahun 1980. Artinya, aku sendiri sudah berusia 40 tahunan lebih. Dari 80.000 korban jiwa dalam ledakan bom atom, aku adalah salah satu yang selamat. Namun, ketika ditemukan, tubuhku sudah dalam kondisi darurat. Setengah mati-setengah hidup. Mati, karena aku sama sekali tidak beraktifitas layaknya orang-orang yang sehat, hidup karena jantungku masih tetap berdetak. Dan itu berlangsung selama 35 tahun ini.

Pemerintah sebenarnya berinisiatif untuk melakukan mekanisme euthanasia kepada diriku. Namun tidak jadi, karena ada intervensi langsung dari Kaisar. Pada akhirnya, aku dibiarkan hidup, dan semua biaya perobatanku, ditanggung Kekaisaran. Kaisar mengatakan, bahwa aku, ujar dokter tadi, adalah simbol keteguhan kota Hiroshima. Lambang kebulatan tekad.

Setengah jam lebih, aku mendengarkan, dan menyimak cerita sang dokter. Aku benar-benar tidak bisa mencerna separuhnya dari apa yang ia ceritakan. Tapi yang aku tahu, aku hidup. Aku mampu bertahan dan lolos dari kematian. Dan itu fakta.

Pelan-pelan kamarku disesaki oleh orang-orang. Dari tatapan matanya, mereka semua membawa perasaan tertarik kepada diriku (atau kepada kondisiku?). Keramaian, justru adalah kondisi yang sudah lama tidak kurasakan. Waktu aku masih berusia 11 tahun lalu, aku adalah penyuka keramaian. Aku selalu berlarian paling kencang ke luar kelas jika lonceng istirahat berdenting. Aku akan ikut dalam hamburan kawan-kawanku. Menjadi yang paling keras tertawanya. Dan yang paling dahulu mencapai papan luncur.

Ingatanku yang sekejap tentang masa sekolahku kemarin (atau 35 tahun yang lalu?) membuatku lapar. Aku ingin sekali membeli jajanan di kantin sekolahku. Kemudian, aku spontan berkata kepada dokter yang dari tadi menemaniku, “tuan, bisakah kau membelikanku jajanan di kantin sekolahanku, tuan?” dokter itu kemudian mengubah sikap ramahnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Dia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti, namun sejatinya, di dalam kandungan kalimatnya, aku yakin, itu bukanlah sesuatu yang baik. “kau itu sekarang hanyalah ruh gentayangan. Hanya aku yang bisa melihatmu. Dan mendengarkanmu. Kematianmu barusan, justru adalah awal mula kehidupanmu yang lain, kawan.” Ujarnya dingin.

Tinggalkan komentar

Sang Sumarnoist

narsisAku dulunya seorang Sumarnois. Mengagumi retorikanya tentang revolusi yang belum selesai. Bersemangat, ketika ia mengobarkan api perlawanan melawan Belanda, ketika kumpeni tersebut datang kembali ke Nusantara dengan agresi militernya yang pertama dan yang kedua. Bahkan, aku memaksa orang tuaku untuk turut pula menghibahkan tanah kami yang sekian hektar, demi agenda revolusi yang belum selesai itu.

Aku diterima kuliah di Universitas Nusantara, jurusan sastra, dengan keyakinan bahwa diriku ini akan bermanfaat untuk agenda revolusinya Bung. Aku bahkan kuliah dengan cara memeras keringat dan air mata orang tuaku di Semarang sana. Aku tidak peduli. “Yang penting adalah”, ujarku kepada kedua orang tuaku, sambil mengulangi kalimat platonik itu, “apa yang kita berikan kepada Negara kita. Bukan apa yang Negara berikan kepada kita!” orang tuaku, yang seorang ningrat kraton, akhirnya kalah berdebat denganku. Merelakan sebidang lagi tanah leluhurnya, untuk biaya kuliahku di ibukota sana.

Ditahun pertama aku kuliah, aku langsung menceburkan diriku dalam dunia pergerakan mahasiswa. Aku tanpa pikir panjang, segera mendaftar menjadi bagian dari organisasi mahasiswa pendukung prinsip-prinsip perjuangan Sumarno. Ditahun kedua, aku pada akhirnya dipilih menjadi Ketua dari gerakan tersebut. Hari-hari kulalui dengan suka-cita. Aku benar-benar menerapkan kesederhanaan a la Sumarno dalam konsep Sumarno-ismenya. Aku bersahabat dengan buruh, petani, pedagang kaki lima, dan semua mahluk Tuhan yang tertindas lainnya.

Dan aku memiliki akses langsung untuk menjalin kontak dengan Bung. Namun yang kudapatkan, justru interaksiku yang begitu intim dengan Bung dan lingkaran dalam kekuasaannya, menjengkelkanku. Garis politiknya bukanlah non blok, seperti yang dikemas oleh media selama ini. Justru semakin hari, yang kurasakan adalah; Bung membawa Indonesia mendekat ke Tiongkok. Kemudian Sovyet. Gerakan non blok, seperti yang diduga oleh sejumlah pengamat, tidaklah memiliki pijakan yang relevan. Pada akhirnya, setiap Negara yang merdeka pasca perang dunia kesatu dan kedua, bukanlah Negara yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai tawar di hadapan hegemoni blok komunis dan blok kapitalis. Faktanya, pemimpin dari masing-masing Negara yang tergabung dalam gerakan non blok, menjadikan gerakan tersebut sebagai kampanye politik nasional untuk meningkatkan nilai popularitas mereka di mata rakyat. rakyat ketika tentu lebih menyukai cerita-cerita ketika seorang anak muda, yang minim pengalaman, mampu menaklukkan raksasa tiran, dengan sekali pukulan sakti. Dan sekiranya, seperti itulah yang aku pikirkan tentang semua ini.

Gaya hidup borjuis Sumarno benar-benar mengejutkan diriku. Istri yang banyak, lencana-lencana yang memadati kostum kebesarannya, tongkat komandonya, TAP MPR yang menjadikannya presiden seumur hidup, adalah rentetan yang membuat aku muak.

Keputusan ekstrem Bung ketika membubarkan parlemen, termasuk majelis konstituante, disusul membubarkan Partai Musyawarah Islam (PMI) dan Partai Sosial Indonesia (PSI), benar-benar tindakan yang ekstra-konstitusional. Bagaimana mungkin, seorang konseptor dasar negara, melakukan tindakan gila seperti itu?

Aku tekun membaca tulisan Bung Husain (Wakil Bung Sumarno) yang dimuat dalam majalah Pandjimas, surat kabar milik Buya Hasyim. Sebuah tulisan yang tulus dan jernih. Bung Husain memberi tulisan itu judul yang elok, “Demokrasi Kita”. Sebuah kritik konstruktif kepada sahabat seperjuangan yang semakin hari, semakin dilanda sindrom megalomania. Aku memang jelas bukan simpatisan PMI, apalagi PSI. namun, aku bersimpati kepada mereka. Keduanya adalah pendekar demokrasi negeri ini. Keduanya memiliki kontribusi yang besar bagi tumbuh-kembangnya budaya berdemokrasi melalui parlemen bagi rakyat Indonesia. Bahkan para petingginya, dikenal bersih selama menjabat.

Akhirnya aku mengambil sikap. Aku melakukan rapat internal organisasi, yang dihadiri oleh semua unsur pimpinan organisasi. Aku mengemukakan kegelisahanku selama ini. Namun rupanya, organisasiku ini, adalah organisasi yang dipenuhi oleh para Sumarnois edan. Saking edannya, mereka menerjemahkan keloyalitasan mereka terhadap Sumarno tanpa kata “tapi”. Dalam rapat itu, aku dikeroyok. Kegelisahanku tidak mendapatkan tempat. Bahkan wakilku, mengancam akan menyelenggarakan Musyawarah Luar Biasa. Sebab, organisasi tidak mungkin dipimpin oleh seseorang yang tidak Sumarnois. Benar-benar gila.

Diremehkannya segala pengorbananku selama ini terhadap organisasi. Dilupakannya segala jerih-payahku selama ini kepada tumpah darah organisasi. Lupa pula ia menghitung, berapa ribu rupiahkah, uang kiriman orang tuaku di Semarang, dipakai untuk keberlangsungan roda organisasi.

Justru inisiatifku itu membuat sejumlah petinggi organisasi mulai mencurigaiku sebagai bagian dari komplotan anti-revolusi. Lebih kejam, esoknya aku membaca namaku disebut media pro pemerintah sebagai bagian dari komplotan pemberontakan PRRI/Permesta! Anak jalang!

Selang seminggu, aku mendapatkan diriku tengah berdiri pada podium, membacakan pembelaanku terkait statementku pada rapat organisasi yang lalu –ketika aku mulai meragukan ke-Sumarnoisme-an Bung. Aku disidang. Dan keputusan akhir dari muslub, aku diberhentikan secara tidak hormat dari organisasi. Keanggotaanku juga dicabut. Wakilku, yang selama ini mengincar posisiku, menggantikanku. Sepertinya, dia akan menggunakan posisiku itu untuk menjilat sebaik mungkin Bung. Hal yang tidak pernah terpikir olehku selama aku menjadi Ketua organisasi.

Agar keputusan sidang lebih legitimate, dibacakanlah nama-nama kader yang menandatangani persetujuan agar aku di impeach, salah satunya aku mendengar nama yang kukenal; Sumarno. Ya. Bung yang kukagumi dulunya. Ia memang kader organisasi. Kader kehormatan. Aku baru tahu, jika kader kehormatan juga memiliki suara untuk menyatakan keberatan terhadap struktur inti organisasi. Dalam sidang itu, aku benar-benar seperti Hitler yang digelanggang ke Mahkamah Internasional karena segala macam kegiatan ahumanisku sewaktu menjadi pemimpin NAZI.

Keputusan musyawarah itu begitu mengguncangku. Aku mengurung diriku seharian di kamar. Terkenang wajah ibu dan bapak di Semarang. Sekian hektar tanah leluhur yang terjual untuk membiayai revolusi. Sekian hektar lagi untuk membiayai kuliahku. Terkenang airmata ibuku yang berderai, ketika aku pergi ke ibukota, tapi aku tak perduli. Semuanya terkenang.

Kenangan-kenangan itu, adalah kenangan seseorang yang kalah. Seseorang yang terlampau prematur mengidolakan Sumarno, dan pada akhirnya menjadi orang yang paling kecewa berat setelah melihat dengan mata-kepala sendiri seperti apa politik Sumarno itu sejatinya.

Air mata mengalir deras. Air mata yang dulunya, mengalir karena kekaguman yang dahsyat terhadap Sang Bung. Air mata yang dulunya memaksa orang tuanya membuatkan stelan jas mirip Bung, dan setelah jadi, dia berteriak-teriak, bak tengah berpidato di hadapan ribuan pasang mata. Air mata yang dulunya penuh kerinduan untuk menengok bagaimanakah ujung dari revolusi ini. Air mata ini adalah air mata yang sama ketika semua peristiwa yang barusan terkenang itu, muncul bergantian di kepalaku. Air mata kekalahan. Air mata ketidak berdayaan.